Kali ini saya lagi jalan2 di Plasa Senayan. Lagi ada great sale katanya tapi yaaa gitu deh..se'great2'nya sale alias segedhe-gedhenya obralan masiiih aja mahal menurut saya. Banyak banget jenis diskonnya. Dari diskon 50%, diskon pada item kedua, hingga beli satu dapat satu. Item atau barangnya pun beragam, dari jam tangan, underwear juga upperwear, maksudnya baju luaran, blazer dkk. Mata saya sempat melirik jam tangan yang harganya 1.500.000 huwikss..mahaaallnyaa..diskonnya 30% yang artinya harganya menjadi satu jutaan deh. Masih mahal juga menurut saya. Etapi kata temen saya itu murah. Biasanya lebih mahal daripada itu. Ketika saya melontarkan pertanyaan apakah dia akan membeli jam dengan harga segitu dijawab iya, tapi tentu saja jamnya tidak dipake sehari-hari. Jam yang dia pakai untuk sehari-hari adalah yang harganya seratusan ribu, tambahnya lagi. Untuk produk seperti tas dan baju tentu saja dia tidak akan mau membeli seharga itu, ga worth it katanya. Saya tentu saja ...
miris mual sedih gundah tak terlintas satu ide pun..mengapa semua harus terjadi. tak pernah bisa kupikirkan satu alasan pun seseorang bisa dengan tega tanpa perasaan melihat bahkan melakukan sesuatu pada orang lain hingga meninggal. muak perih gulana ............
Takdir adalah ketetapan Alloh yang telah ditentukan bahkan sebelum kita ada di dunia ini. Jauuuuh dari sebelum terciptanya dunia galaksi ini. Ikhlas adalah sikap menerima dengan legawa tanpa gundah dan desah apapun yang terjadi, senang gembira dan bahagia *elhoh kok bagus smua, maupun duka nestapa dan siksa. Seorang teman pernah mengatakan pada saya, Kita ini hanya wayang, yang menjalankan semua yang telah dipastikan dalam Lauh Mahfudz. Namun yang mengusik hati saya adalah dia jadi tidak berjuang. Pasif. Padahal bukankah kita tidak pernah tahu takdir kita? bukankah takdir adalah menjadi "takdir" ketika telah terjadi? kenapa tidak kita berusaha maksimal, sehingga setidaknya dengan usaha maksimal, apabila tidak berhasil kita bisa mengatakan bahwa itu takdir. Tidak adil saat kita mengatakan itu takdir padahal kita tidak pernah berusaha. Tapi kemudian saya menyadari sesuatu. Bahwa saya yang merasa berusaha sebenarnya saya kurang usaha. Sedangkan dia yang pa...
Komentar
Posting Komentar